Langsung ke konten utama

Postingan

Merindukan ulama

Dewasa ini banyak sekali ulama yang berperan multifungsi, bahkan kadang mereka berperan di luar dimensi tanggungjawab esensial yang sepatutnya mereka emban. Sehingga, banyak persoalan keumatan belakangan ini, entah menyangkut kemerosotan moral umat, perilaku kekerasan atas nama agama di kalangan umat, tingkat pendidikan umat yang rendah serta kungkungan lingkaran kemiskinan yang membelit umat masih menjadi pekerjaan rumah yang jauh dari selesai. Sebagai agen perubahan sosial, ulama merupakan tumpuan paling terakhir di mana segala lapisan masyarakat mengadukan permasalahannya. Apalagi mereka punya otoritas yang dilegitimasi tuntunan doktrinal agama, baik yang tertulis dalam hadits berbunyi: “Ulama adalah pewaris para nabi” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi). Juga, ayat al-Qur’an yang mengatakan bahwa mereka adalah diantara hamba yang paling takut (khasy) kepada Allah Swt (QS. Fathir (35): 28. Ulama sebagaimana disitir QS. Fathir (35): 28 tersebut adalah sosok yang dalam dirinya terpenu...

Menimbang Ulang Sains Islami

Wacana islamisasi pengetahuan, atau belakangan lebih dikenal dengan Sains Islami, yang pernah digagas oleh Ismail Raji’ al-Faruqi (alm) sejak tahun 1980-an, dewasa ini gaungnya memang agak redup—kalau tak mau dikatakan sudah dianggap kurang seksi bagi kebanyakan orang. Meskipun, sesungguhnya, proyek ini didukung oleh sebuah lembaga besar yang berkedudukan di Herndon (Virginia, AS) bernama The International Institute of Islamic Thought (IIIT), yang mempunyai cabang di beberapa negara, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, IIIT bahkan pernah diarsiteki dan dipimpin oleh M. Dawam Rahardjo, seorang intelektual Muslim yang dikenal mat sekuler. Selain IIIT, lembaga yang punya kansern sama ialah ISTAC (Institute of Science Theology and Civilization), yang berkedudukan di Malaysia, yang merupakan implementasi dari ide dan gagasan seorang ilmuan berkebangsaan Malaysia, Naquib al-Attas. Redupnya gaung islamisasi pengetahuan yang menawarkan sebuah metodologi ilmu alternatif, belakangan diketahu...

Membumikan Teologi

Dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (1994), mendiang budayawan dan sejarawan, Kuntowijoyo, pernah memberikan suatu analisis tentang bagaimana sebuah transformasi masyarakat dapat dilakukan. Berbekal pemaknaan teologi yang diterawangi dalam kacamata sosial dan sebagai gejala sosiologis, beliau memaklumkan bahwa teologi sejatinya tidak hanya sekadar cukup memuaskan keyakinan individual, lebih dari itu dapat menjadi bagian penting dalam proses rekayasa sosial di tengah-tengah masyarakat. Ide mendiang Kuntowijoyo dan yang menyerupai ini kemudian lebih dikenali sebagai gerakan dan upaya bagaimana teologi suatu agama dapat lebih membumi, sebagaimana pernah dicontohkan oleh para Nabi-Nabi. Selain bersumber pada kekeringan agama-agama dalam merespon realitas masyarakat, dimana perannya banyak digantikan oleh ilmu dan teknologi, munculnya pemikiran tentang teologi yang membumi dapat dikatakan merupakan umpan balik dari maraknya diskursus Marxisme yang pernah booming pada perten...

Nashr Hamid Abu Zayd; Dari Tekstualitas Al-Quran Sampai Kritik Wacana Keagamaan

"When the meaning is frozen and fixed an authority emerges to claim itself as the only guardian power of Islam. Whether this authority is the state or the political opposition, manipulation of the meaning of the Qur'an is practised. Whichever it is, it is not difficult to claim that the authority imposed is of the Qur'an itself." [Nashr Hamid Abu Zayd] Dalam panggung sejarah, entah sudah berapa banyak martir dari kalangan ilmuan, ulama, maupun intelektual, dan apapun namanya sebagai manusia pembelajar, yang meregang nyawa di hadapan kekuasaan. Dosa pekat kekuasaan terhadap dunia ilmu baik atas nama agama, negara, atau apapun bentuknya, paling tidak bisa dilacak sejak Socrates yang terpaksa meneguk racun dalam mempertahankan martabat manusia sebagai maakhluk berpikir, tetap pada tempatnya. Setelah Socrates, banyak lagi peristiwa silih berganti yang bercerita tentang “kejahatan” kekuasaan terhadap kalangan ilmuan. Kendatipun demikian, belum pernah terd...

Menyoal Otentisitas Hadits; Pandangan Ignaz Goldziher (1850‑1921) dan Joseph Schacht (1902-1969)

Pertanyaan akan pertanggungjawaban keotentikan Islam sebagai agama baru, yang lahir pada kurun abad ke-7 masehi, barangkali menjadi pertanyaan yang ganjil bagi kaum Muslim sendiri. Sebagaimana pemeluk agama lain terhadap agama mereka sendiri, umat Islam pun tak luput dari cara pandang yang secara perspektif lebih “ in ward looking ”, melihat segala sesuatu atas dasar pertimbangan dan cakrawala keyakinan hal-hal yang sudah mapan di dalam dirinya sendiri. Sehingga tidak mengherankan, manakala ada pihak yang berasal dari alur tradisi lain yang mencoba meruyak ke batas terjauh dasar pertimbangan dan keyakinan hal-hal yang dianggap sudah mapan itu, dianggap sebagai upaya terselubung sebentuk “penjajahan”, dan bukan upaya yang dilakukan berdasarkan atas pertimbangan ilmiah. Apa yang dikatakan sebagai ilmiah diatas, pada akhirnya juga sesungguhnya menjadi soal lain. Keilmiahan tentu saja dihasilkan melalui pencapaian terhadap ketetapan-ketetapan yang telah menjadi konvensi sebelumnya. Dan...