Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sosok

Nashr Hamid Abu Zayd; Dari Tekstualitas Al-Quran Sampai Kritik Wacana Keagamaan

"When the meaning is frozen and fixed an authority emerges to claim itself as the only guardian power of Islam. Whether this authority is the state or the political opposition, manipulation of the meaning of the Qur'an is practised. Whichever it is, it is not difficult to claim that the authority imposed is of the Qur'an itself." [Nashr Hamid Abu Zayd] Dalam panggung sejarah, entah sudah berapa banyak martir dari kalangan ilmuan, ulama, maupun intelektual, dan apapun namanya sebagai manusia pembelajar, yang meregang nyawa di hadapan kekuasaan. Dosa pekat kekuasaan terhadap dunia ilmu baik atas nama agama, negara, atau apapun bentuknya, paling tidak bisa dilacak sejak Socrates yang terpaksa meneguk racun dalam mempertahankan martabat manusia sebagai maakhluk berpikir, tetap pada tempatnya. Setelah Socrates, banyak lagi peristiwa silih berganti yang bercerita tentang “kejahatan” kekuasaan terhadap kalangan ilmuan. Kendatipun demikian, belum pernah terd...

Menyoal Otentisitas Hadits; Pandangan Ignaz Goldziher (1850‑1921) dan Joseph Schacht (1902-1969)

Pertanyaan akan pertanggungjawaban keotentikan Islam sebagai agama baru, yang lahir pada kurun abad ke-7 masehi, barangkali menjadi pertanyaan yang ganjil bagi kaum Muslim sendiri. Sebagaimana pemeluk agama lain terhadap agama mereka sendiri, umat Islam pun tak luput dari cara pandang yang secara perspektif lebih “ in ward looking ”, melihat segala sesuatu atas dasar pertimbangan dan cakrawala keyakinan hal-hal yang sudah mapan di dalam dirinya sendiri. Sehingga tidak mengherankan, manakala ada pihak yang berasal dari alur tradisi lain yang mencoba meruyak ke batas terjauh dasar pertimbangan dan keyakinan hal-hal yang dianggap sudah mapan itu, dianggap sebagai upaya terselubung sebentuk “penjajahan”, dan bukan upaya yang dilakukan berdasarkan atas pertimbangan ilmiah. Apa yang dikatakan sebagai ilmiah diatas, pada akhirnya juga sesungguhnya menjadi soal lain. Keilmiahan tentu saja dihasilkan melalui pencapaian terhadap ketetapan-ketetapan yang telah menjadi konvensi sebelumnya. Dan...

Pembaharuan Islam Ahmad Wahib dalam Kacamata Abdolkarim Souroush

Secara umum terdapat tiga kelompok sikap keberagamaan Islam di Indonesia. Pertama, mereka yang menjadikan Islam sebagai ajaran dan doktrin yang universal; yang mengatasi sejarah; yang tetap; dan yang self-sufficient ; sehingga tidak diperlukan lagi sebuah pembaharuan. Islam bagi kelompok ini sudah menjawab semua persoalan keduniaan--apalagi persoalan akhirat, sebagaimana termuat pada kata perkata Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang dapat dipercaya keasliannya ( Hadits As-Shahihah ). Kemunduran Islam bagi kelompok ini, lebih disebabkan karena umat Islam sudah menyimpang dari teks-teks kitab sucinya. Maka, jawaban kemajuan bagi Islam masa depan ialah memahami kitab suci secara tekstual-literal dan mengamalkannya tanpa reserve . Kelompok ini kerap disebut sebagai fundamentalis Islam. Kedua, mereka yang menjalankan ajaran dan doktrin Islam dengan tanpa melepaskan nilai-nilai juga sistem tradisi darimana mereka berasal. Keterlemparan manusia menjadi suku, bangsa, berbahasa, berwarna kulit,...

Al-Ghazali’s Theory of Knowledge

Introduction All approaches and studies, except empiricism, to either knowledge or truth claims that are emerged in history seems have been referred in history of Islamic philosophy. The fact that Islam can accept any concepts, either from inside or outside, has proved an adaptive manner of the religion, even it is almost tend to be permissive. It is understandable when all Muslim agree to the principle that is important to take as well as to learn to hikmah from any places. The wave of Hellenism that consists of heritage of Greek thought is not to prohibit, hence to be neglected. Many Muslims continues this tradition and to be authoritative of it. The tradition, certainly, at last has been luxurious. Nevertheless, it is not to be gained without hard effort. The tradition still exist hitherto, although the sound seems has merely vague. A lot of observers claimed that Al-Ghazali is the thinker that is to be responsible for the situation. The question: is it fair the claim above? T...

Ahmad Wahib’s Renewal Islamic Thinking in Indonesia

Generally, there are three groups of Islamic thinking in Indonesia. The First, they who render Islam should be as doctrine applied universally; meta-historic; definitive; and self-sufficient. Hence, they do not need Islamic renewal. Islam was gave answers for all of problem questions of life in worldly even in hereafter, which was described by The Koran and Sunna those has dependable (Hadith As-Shahiha). The declining of Islam—for those who belong to this point of view—is due to distortion of applying Holy Koran. Therefore, discerning The Holy Koran comprehensively and reading textually-literally, as well as applying it without reserve, is the answer for better future for Islamic society. This group frequently called as fundamentalist in Islam. The Second, they who render Islam should be as doctrine, nevertheless they do not neglecting system and tradition values of Islam or custom attribute where they come from. Human was born with certain tribe, nation, language, colored, habit, cus...