“…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri mau mengubah nasib mereka sendiri...” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11) Penggalan ayat di atas secara tersurat menegaskan bahwa kesuksesan bukanlah hadiah tetapi upaya keras yang harus diraih sekuat tenaga. Secara tersirat ayat tersebut juga menyimpulkan bahwa kegagalan dan kemunduran seseorang atau suatu kaum berasal dari aspek internal, bukan dari faktor eksternal. Tidaklah bijaksana apabila menyalahkan orang lain atas kegagalan yang menimpa diri sendiri. Akan jauh lebih bijaksana jika pertama-tama kita menginstrospeksi diri kita sendiri sebelum mencari kambing hitam atas petaka yang menimpa kita. Singkatnya, janganlah kita bersikap “buruk rupa cermin dibelah.” Setelah menyiapkan sikap mental bahwa kesuksesan dan kegagalan berasal dari dalam diri kita sendiri, apa selanjutnya yang harus kita lakukan? Tentu saja, kita harus mau berubah agar kegagalan yang kita alami berganti menjadi keberhasilan dan keberhas...
Dewasa ini banyak sekali ulama yang berperan multifungsi, bahkan kadang mereka berperan di luar dimensi tanggungjawab esensial yang sepatutnya mereka emban. Sehingga, banyak persoalan keumatan belakangan ini, entah menyangkut kemerosotan moral umat, perilaku kekerasan atas nama agama di kalangan umat, tingkat pendidikan umat yang rendah serta kungkungan lingkaran kemiskinan yang membelit umat masih menjadi pekerjaan rumah yang jauh dari selesai. Sebagai agen perubahan sosial, ulama merupakan tumpuan paling terakhir di mana segala lapisan masyarakat mengadukan permasalahannya. Apalagi mereka punya otoritas yang dilegitimasi tuntunan doktrinal agama, baik yang tertulis dalam hadits berbunyi: “Ulama adalah pewaris para nabi” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi). Juga, ayat al-Qur’an yang mengatakan bahwa mereka adalah diantara hamba yang paling takut (khasy) kepada Allah Swt (QS. Fathir (35): 28. Ulama sebagaimana disitir QS. Fathir (35): 28 tersebut adalah sosok yang dalam dirinya terpenu...