Langsung ke konten utama

Wacana


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menimbang Ulang Sains Islami

Wacana islamisasi pengetahuan, atau belakangan lebih dikenal dengan Sains Islami, yang pernah digagas oleh Ismail Raji’ al-Faruqi (alm) sejak tahun 1980-an, dewasa ini gaungnya memang agak redup—kalau tak mau dikatakan sudah dianggap kurang seksi bagi kebanyakan orang. Meskipun, sesungguhnya, proyek ini didukung oleh sebuah lembaga besar yang berkedudukan di Herndon (Virginia, AS) bernama The International Institute of Islamic Thought (IIIT), yang mempunyai cabang di beberapa negara, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, IIIT bahkan pernah diarsiteki dan dipimpin oleh M. Dawam Rahardjo, seorang intelektual Muslim yang dikenal mat sekuler. Selain IIIT, lembaga yang punya kansern sama ialah ISTAC (Institute of Science Theology and Civilization), yang berkedudukan di Malaysia, yang merupakan implementasi dari ide dan gagasan seorang ilmuan berkebangsaan Malaysia, Naquib al-Attas. Redupnya gaung islamisasi pengetahuan yang menawarkan sebuah metodologi ilmu alternatif, belakangan diketahu...

Al-Ghazali’s Theory of Knowledge

Introduction All approaches and studies, except empiricism, to either knowledge or truth claims that are emerged in history seems have been referred in history of Islamic philosophy. The fact that Islam can accept any concepts, either from inside or outside, has proved an adaptive manner of the religion, even it is almost tend to be permissive. It is understandable when all Muslim agree to the principle that is important to take as well as to learn to hikmah from any places. The wave of Hellenism that consists of heritage of Greek thought is not to prohibit, hence to be neglected. Many Muslims continues this tradition and to be authoritative of it. The tradition, certainly, at last has been luxurious. Nevertheless, it is not to be gained without hard effort. The tradition still exist hitherto, although the sound seems has merely vague. A lot of observers claimed that Al-Ghazali is the thinker that is to be responsible for the situation. The question: is it fair the claim above? T...

Membumikan Teologi

Dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (1994), mendiang budayawan dan sejarawan, Kuntowijoyo, pernah memberikan suatu analisis tentang bagaimana sebuah transformasi masyarakat dapat dilakukan. Berbekal pemaknaan teologi yang diterawangi dalam kacamata sosial dan sebagai gejala sosiologis, beliau memaklumkan bahwa teologi sejatinya tidak hanya sekadar cukup memuaskan keyakinan individual, lebih dari itu dapat menjadi bagian penting dalam proses rekayasa sosial di tengah-tengah masyarakat. Ide mendiang Kuntowijoyo dan yang menyerupai ini kemudian lebih dikenali sebagai gerakan dan upaya bagaimana teologi suatu agama dapat lebih membumi, sebagaimana pernah dicontohkan oleh para Nabi-Nabi. Selain bersumber pada kekeringan agama-agama dalam merespon realitas masyarakat, dimana perannya banyak digantikan oleh ilmu dan teknologi, munculnya pemikiran tentang teologi yang membumi dapat dikatakan merupakan umpan balik dari maraknya diskursus Marxisme yang pernah booming pada perten...