Langsung ke konten utama

Makalah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menimbang Ulang Sains Islami

Wacana islamisasi pengetahuan, atau belakangan lebih dikenal dengan Sains Islami, yang pernah digagas oleh Ismail Raji’ al-Faruqi (alm) sejak tahun 1980-an, dewasa ini gaungnya memang agak redup—kalau tak mau dikatakan sudah dianggap kurang seksi bagi kebanyakan orang. Meskipun, sesungguhnya, proyek ini didukung oleh sebuah lembaga besar yang berkedudukan di Herndon (Virginia, AS) bernama The International Institute of Islamic Thought (IIIT), yang mempunyai cabang di beberapa negara, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, IIIT bahkan pernah diarsiteki dan dipimpin oleh M. Dawam Rahardjo, seorang intelektual Muslim yang dikenal mat sekuler. Selain IIIT, lembaga yang punya kansern sama ialah ISTAC (Institute of Science Theology and Civilization), yang berkedudukan di Malaysia, yang merupakan implementasi dari ide dan gagasan seorang ilmuan berkebangsaan Malaysia, Naquib al-Attas. Redupnya gaung islamisasi pengetahuan yang menawarkan sebuah metodologi ilmu alternatif, belakangan diketahu...

Membumikan Teologi

Dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (1994), mendiang budayawan dan sejarawan, Kuntowijoyo, pernah memberikan suatu analisis tentang bagaimana sebuah transformasi masyarakat dapat dilakukan. Berbekal pemaknaan teologi yang diterawangi dalam kacamata sosial dan sebagai gejala sosiologis, beliau memaklumkan bahwa teologi sejatinya tidak hanya sekadar cukup memuaskan keyakinan individual, lebih dari itu dapat menjadi bagian penting dalam proses rekayasa sosial di tengah-tengah masyarakat. Ide mendiang Kuntowijoyo dan yang menyerupai ini kemudian lebih dikenali sebagai gerakan dan upaya bagaimana teologi suatu agama dapat lebih membumi, sebagaimana pernah dicontohkan oleh para Nabi-Nabi. Selain bersumber pada kekeringan agama-agama dalam merespon realitas masyarakat, dimana perannya banyak digantikan oleh ilmu dan teknologi, munculnya pemikiran tentang teologi yang membumi dapat dikatakan merupakan umpan balik dari maraknya diskursus Marxisme yang pernah booming pada perten...

Sukses itu mudah selama Anda mau berubah secara tepat

“…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri mau mengubah nasib mereka sendiri...” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11) Penggalan ayat di atas secara tersurat menegaskan bahwa kesuksesan bukanlah hadiah tetapi upaya keras yang harus diraih sekuat tenaga. Secara tersirat ayat tersebut juga menyimpulkan bahwa kegagalan dan kemunduran seseorang atau suatu kaum berasal dari aspek internal, bukan dari faktor eksternal. Tidaklah bijaksana apabila menyalahkan orang lain atas kegagalan yang menimpa diri sendiri. Akan jauh lebih bijaksana jika pertama-tama kita menginstrospeksi diri kita sendiri sebelum mencari kambing hitam atas petaka yang menimpa kita. Singkatnya, janganlah kita bersikap “buruk rupa cermin dibelah.” Setelah menyiapkan sikap mental bahwa kesuksesan dan kegagalan berasal dari dalam diri kita sendiri, apa selanjutnya yang harus kita lakukan? Tentu saja, kita harus mau berubah agar kegagalan yang kita alami berganti menjadi keberhasilan dan keberhas...